PROFIL PENGGAGAS DAN

PENDIRI PERUSAHAAN

P.S.ATMA YUDHAPRATAMA

BAGIAN KESATU

tries PROFILPerjalanan awal sejak Sekolah Dasar sampai memulai bekerja, tanpa gambaran apapun tentang tugas-tugas berat yang harus dijalani. Tetapi dengan bekal rasa cinta tanah air, jiwa kepanduan dan petualangan serta kerja keras, mampu menyelesaikan tugas yang dibebankan dengan selamat dan penuh tanggung jawab

lahir 1941, dan sekarang sudah mencapai 76 tahun. Kalau berbicara VISI INDONESIA 2030 pasti tidak akan mengalami. Meski demikian tetap bersemangat mendukung terlaksananya cita-cita Visi Indonesia 2030., dan di usia senja ini masih ingin berbuat sesuatu yang positif untuk tanah air dan bangsa dengan dukungan anak-anak muda yang pantang menyerah.

Ayahnya (almarhum) yang seorang pensiunan Pegawai Negeri di Kementerian Kesehatan telah mendidik rasa cinta yang besar pada Tanah Air-nya. Beliau sendiri pada waktu mudanya bergabung dengan Kepanduan Surya Wiryawan dan ketika kepindahannya dari Palembang ke Bandung bergabung pada Hisbul Wathan (HW) dan kemudian ke Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Dimasyarakat beliau tidak pernah absen dalam kegiatan sosial masyarakat dan pendidikan, baik dibidang perkoperasian maupun dukungan kegiatan pada lingkungan.

Ayah dan ibu yang hidup sederhana mengajarkan kehidupan bermasyarakat dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan baik dalam bermasyarakat, berbangsa maupun bertanah air.

Pendidikan yang diikuti: adalah berupa seperti Tata Buku, Administrasi Perusahaan Modern (APM)/ (MBA) Modern Bedrijf Administratie, Kader Bank, Boomzaken/ Shipping, Ekspor/ Impor & Stevedoring dan B.I.Perniagaan dan Business Economics.. Dalam usia 23 tahun pada 1964 sampai akhir 1965 sebagai personil dari KOTI / SEKKIB (Komando Operasi Tertinggi / Sekretariat Koordinator Urusan Irian Barat) memperoleh tugas ke Irian Barat pasca TRIKORA / UNTEA dalam rangka MISI OPERASI EKONOMI.. Dikirim melalui BPU-PDN (Badan Pimpinan Umum – Perusahaan Dagang Negara, ditempatkan pada PN Irian Bhakti. Sesuai basis pendidikan saya ditugaskan di wilayah barat dengan kedudukan di Sukarnapura (sekarang Jayapura). Adapun tugas resmi yang dibebankan adalah memperbaiki dan menertibkan administrasi logistik serta pelaksanaan dislokasi logistik seluruh Irian Barat.

Dalam usia 23 tahun telah memperoleh posisi yang lumayan berperan. Sebagai petugas yang menangani masalah logistik (bukan BULOG) di Irian Barat sesudah UNTEA pekerjaan yang diembannya juga sangat rawan, banyak upaya dan bujukan dari lingkungan dekat supaya diberi prioritas (jatah) dalam pembelian barang. Dalam melaksanakan tugas dekat dengan pejabat tinggi sipil dan militer di daerah. Tugas yang dibebankan adalah penyelamatan kebijakan politik yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui PEPERA, melalui pengamanan logistik.

Berbagai masalah pekerjaan yang kompleks dan ruwet dihadapi membuat hampir-hampir ia tak mampu bertahan.

Ia memperoleh gaji dan tunjangan (legal) yang cukup besar, pembayaran setara mata uang gulden (mata uang negara Belanda) sehingga penghasilan dalam 3 bulan bisa untuk membeli mobil Fiat 1100 atau VW Kodok terbaru saat itu. Ia tak pernah berpikir untuk membeli mobil karena dalam tugas sehari-hari menggunakan mobil dinas Fiat 1100 dan Jeep Toyota Land Cruiser Canvas.

Dibalik fasilitas yang diterima, ia dan beberapa teman dilapangan kerap berada di kapal sampai jauh malam bahkan sampai pagi lagi karena harus mengawasi penurunan dan pengiriman barang-barang impor dan sembako untuk memenuhi kebutuhan rakyat Irian Barat (jam kerja ini melebihi jam kerja teman-teman di kantor). Sebab bisa saja terjadi barang yang harusnya dikirim ke Merauke lari ke pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara) atau naik ke darat lagi dan terbang ke Ambon.

TUGAS YANG MENGESANKAN DAN MEMBANGGAKAN   
  1. Ia pernah dihadang oleh 3 orang bersenjata panah dan parang di jalan yang sepi dan berbukit yang ternyata buruh pelabuhan yang dipecat oleh petugas pelabuhan karena kerap membawa pulang barang-barang bukan miliknya dari gudang pelabuhan.
  2. Ketika terjadi erosi kepercayaan Bank Indonesia terhadap kinerja Direktur Utama / President Director (Perusahaan Negara sudah diubah menjadi Perusahaan Daerah) Irian Bhakti ia ditugaskan mewakili Direktur Utama atas permintaan Direktur Bank Indonesia (hanya karena dianggap ia bisa berbuat sesuatu untuk mengembalikan uang BI) untuk negosiasi pemberian dispensasi penerbitan bank garansi untuk muatan barang impor 2 buah kapal WONOSOBO dan NEDERWESSER milik Maskapai Pelayaran NEED LLOYDS, yang bilamana tidak terkeluarkan dari pelabuhan akan timbul perang suku dan anti pati terhadap dukungan rakyat Irian Barat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk tindak lanjutnya, ia dengan didampingi Direktur Utama dan Direktur Distribusi diminta secara langsung menjelaskan apa yang harus dilakukan para kepala divisi, untuk mengatasi masalah dislokasi dan menyangkut pembayaran kepada BI dalam waktu 15 hari kerja.
  3. Langkah yang diambil,

Semua Cabang Perusahaan harus mengirim uang dalam waktu 10 hari dengan ultimatum (keadaan darurat ini memungkinkan untuk bertindak demikian) bila tidak dilaksanakan maka pengiriman logistik dari Pusat ke Cabang tidak akan dilakukan. Jika hal ini sampai terjadi maka Cabang akan mengalami kerepotan besar. Hal ini merupakan sesuatu yang mustahil terjadi dalam keadaan aman / normal, pemberian wewenang memimpin rapat / briefing para Kepala Divisi (Division Manager) dalam rangka menjaga stabilisasi sosial, ekonomi dan politik,

Kordinasi dengan semua divisi dan instansi Pemerintah terkait.

  • Divisi Impor segera membuat dan menyelesaikan Kalkulasi Harga,
  • Dinas Perekonomian memeriksa dan menyetujui harga yang telah dihitung,
  • Divisi Keuangan segera memberitahu, memperingatkan kepada Cabang-cabang agar segera melaksanakan pembayaran / pengiriman uang ke Kantor Pusat.
  • Divisi Distribusi menyiapkan dokumen (invoerpas) pemasukan barang impor ke gudang dan siap mengirimkan kembali dilengkapi dokumen interinsuler ke daerah bilamana diperlukan minta bantuan angkutan dan personil pada militer (Angkatan Darat).
  • Bea Cukai memeriksa seluruh dokumen dan fakta barang yang masuk dan keluar.

Semua harus kerja lembur.

  • Dan suatu ketika pernah sendirian menyerahkan bea masuk sebesar IBRp.120.000,- atau setara  NLG.120.000., dengan kurs mata uang resmi (IDR) x Rp.150,- = Rp.18.000.000,- (1964) (seharga 20 mobil Fiat 1100/VW Beetle 1300) secara tunai dibawa dengan meletakkan di jok belakang mobil dimasukan travel bag dan sebagian hanya ditutupi kertas koran saja. (suatu kesemberonoan yang mengerikan jika terjadi saat ini). Karena pada waktu tersebut Bank Indonesia tidak mau mem-FIAT cek yang dikeluarkan oleh PN. Irian Bhakti.
  • Keadaan darurat, harus mengemudikan truk bertonase besar dan forklift. Pernah terjadi sabotase oleh beberapa oknum, 7 truk tidak bisa dioperasikan disebabkan tanki bensinnya bocor berkarat karena diisi garam. Terpaksa mendatangkan tanki bensin truk International Harvester dari Australia menggunakan pesawat terbang. Dan selama kerusakan tersebut menggunakan truk-truk bantuan milik Angkatan Darat.

Pada tanggal 25 September 1965 kembali ke Jakarta.Ada peristiwa G30S yang memporakporandakan ketenangan baik pemerintahan maupun masyarakat, beberapa saat terjadi kesimpang siuran fakta dan berita. Setelah ada tindakan Pemerintah dan Angkatan Bersenjata, meski masih timbul berbagai kecurigaan dan api dalam sekam, semua sudah terkendali.

Kekecewaan demi kekecewaan yang dialami karena situasi politik dan keamanan membuat atasannya, seorang Kolonel Angkatan Darat menawari penugasan kembali dengan beberapa pilihan, kembali ke Irian Barat dengan fasilitas yang cukup atau memilih Instansi Pemerintah (1 Perusahaan Pemerintah, 2 Lembaga dan 2 Kementerian) yang sampai beliau wafat ia belum sempat menjawab dengan pasti, kecuali ingin bebas bekerja berwiraswasta dan ingin kaya sehingga bisa mengabdi secara penuh pada Bangsa Indonesia”.  Beliau wafat dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Selain kondisi inflasi sehingga masalah financial sensitive, dibelakangnya tak ada lagi yang menjamin bahwa yang dilakukan benar, benar dan benar.

KEINGINAN PADA WAKTU ITU DAN MENGAPA IA KELUAR DARI PEMERINTAHAN: INGIN KAYA DAN HIDUP BEBAS MENJADI WIRASWASTAWAN

BAGIAN KEDUA

tries PROFILSetelah beberapa saat mengambil cuti dan merenungkan apa benarnya berhenti mengabdi pada Negara dan Bangsa ini. Yang ada dalam pikiran pada waktu itu adalah bahwa mengabdi pada Tanah Air itu tidak mutlak harus jadi Pegawai Negeri atau Tentara. Guru-guru yang mengabdi di pedalaman Irian Barat sebagai SUKARELAWATI, merupakan suatu bentuk pengabdian dan bhakti dalam turut membangun Negara dan Bangsa. Banyak kesulitan yang menimpa dan mereka hadapi dengan ketulusan dan keikhlasan hati.

Akhirnya pilihan pada mengabdi Tanah Air melalui bidang yang dibutuhkan oleh banyak rakyat Indonesia yaitu di bidang pendidikan dan industri pariwisata.

  1. Setelah BEBAS dari disiplin dan pekerjaan rutin sebagai pegawai dengan penugasan yang ketat dan perintah yang tak bisa dibantah, serta berbagai tekanan tugas yang berat dirasakan, ia merasa MERDEKA.
  2. Tapi ternyata tugas belum selesai. Kondisi perekonomian yang tak stabil berada di posisi orang bebas itu mengandung berbagai resiko yang seimbang bila dibandingkan dengan tugas yang berat tapi berpenghasilan tetap dan memadai.
  3. Antara kebutuhan hidup, dengan “gengsi menarik kembali pernyataan dan kata-kata yang pernah diucapkan ingin menjadi orang bebas, membuat ia harus survive.
  4. Ternyata ia merasa harus hidup sendirian, mencari uang sendirian, tak ada bantuan dan uluran tangan yang bisa diharapkan bisa menopang kehidupan usaha yang dirintis diluar “jadi pegawai”. Akhirnya ia memahami bahwa apa yang diperoleh selama ini, kekuatan dan kewenangan adalah karena “kekuatan bintang” dibelakangnya dan siapa yang menugaskan. Ia pribadi bak telanjang, tak punya apa-apa lagi.
  5. 1966 – 1967 :Bersama teman-teman menerbitkan Majalah Hiburan Remaja Yang Bernilai Sastra “TJERPEN” yang hanya bertahan 13 nomor karena situasi moneter tidak mendukung dan para agen menunggak pembayaran. Beberapa upaya untuk meneruskan penerbitan tidak memungkinkan kelanjutannya.
  6. 1966 – 1969 :Bergabung pada PT. Lictraverza (Technical, Travel & Advertising Organization), Jakarta. Sesuai keinginan belajar banyak bidang pariwisata, untuk upaya memasukkan dan meningkatkan arus wisatawan ke Indonesia, sehingga mampu menambah cadangan devisa. Tapi dibalik upaya tersebut teman-teman di biro perjalanan gencar mengkampanyekan perjalanan wisata ke luar negeri, yang berpotensi mengurangi cadangan devisa.
  7. Akhirnya terpikir untuk mendidik banyak lagi orang yang memahami arti penting dan manfaat industri pariwisata bagi peningkatan ekonomi nasional Indonesia agar mampu menarik, menjaring wisatawan asing masuk ke Indonesia.
  8. Setelah mengikuti pendidikan Applied Science pada College of the Travel & Hospitality Industry dan Lewis Hotel Motel Training School / Career Academy (Extension Study) dari Washington DC dan Milwaukee, Wisconsin (dalam konsentrasi Hotel management,Tourism Marketing dan Tourism Planning), mulai tahun 1971 sampai tahun 1981 memimpin Institut Pariwisata Indonesia (INSPARIN) di Yogyakarta (lembaga pendidikan program diploma III pertama di Yogyakarta dengan kurikulum dan bahan studi dari Riyerson Politechnic Institute / AH & MA Educational Institute, karena saat itu belum ada kurikulum baku yang ditetapkan dan diakui Pemerintah / Depdikbud).
  9. Untuk memberikan materi terbaik dalam pengelolaan lembaga pendidikan bagi mahasiswa, ia menulis beberapa materi pembelajaran (hand outs) mengenai pariwisata dan perhotelan (yang mana materi ini secara otomatis dimiliki oleh para mahasiswa.)

Kiprah dalam pengembangan Indonesia Hotels and Restaurants Association (IHRA)/PHRI:

Bersama General Manager Hotel Garuda Yogyakarta pada waktu itu,dan beberapa manager hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta  membentuk kepengurusan IHRA (Indonesian Hotels & Restaurant Association ), Komda Yogyakarta & Jawa Tengah (sesuai permintaan DPP IHRA / PHRI). pada tahun 1972 dengan anggota hotel dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah (pada waktu itu Jawa Tengah masih belum terbentuk dan hanya beberapa hotel yang tergabung didalamnya, antara lain: Senopati di Magelang, Dibya Puri dan Patra Jasa di Semarang).

Pada Musyawarah Nasional di Chandra Wilwatikta, Pandaan Jawa Timur nama IHRA/ dirubah menjadi PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) atas saran Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

TUGAS YANG MENGESANKAN DAN MEMBANGGAKAN

adalah turut mengembangkan dan mensosialisasikan industri pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain dalam kapasitas sebagai Sekretaris PHRI-DIY, juga sebagai Staf Pelaksana Tim Promosi Pariwisata IHRA / ASITA DIY bersama Pemda DIY menggagas berdirinya Tourist Information Center (TIC) yang dalam perkembangannya sekarang telah menjadi bagian dari pelayanan Dinas Pariwisata (Badan Pariwisata) Provinsi DIY.

Pekerjaan yang ditangani berkait dengan pengembangan sumber daya manusia pariwisata Indonesia dan kegiatan promosi pariwisata:

  • 1969-1981: Direktur, Institut Pariwisata Indonesia (INSPARIN), Yogyakarta
  • 1969-1981: Direktur, Penerbit Metromedia Inter Indonesia, Yogyakarta
  • 1975-1981: Direktur Utama PT. Sari Sarana Wisata, Yogyakarta
  • 1981-1986: Direktur TrainingWest EduConsult, Jakarta
  • 1987-sekarang : Direktur Manitri , M/C/A-Worldwide Enterprise, Jakarta

Pengalaman Mengajar :

  • 1966–1969Mengajar pada Kursus Guide (Pemandu) Pariwisata, dan Hotel Training  Course–  Jakarta
  • 1966–1969Mengajar pada Crash Program Calon Karyawan Hotel dan Restoran, Pusat Pendidikan dan Latihan Kader Industri Kepariwisataan Indonesia– Jakarta
  • 1970–1981Mengajar Mata kuliah Perhotelan, Hotel & Travel MarketingAirline & Transportation pada Institut Pariwisata Indonesia– Yogyakarta
  • 1972–1977Mengajar Mata Kuliah: Pengantar Perhotelan, HousekeepingHotel Marketing, pada Akademi Kepariwisataan Indonesia (AKI)– Yogyakarta
  • 1973–1974Mengajar Mata Kuliah: Housekeeping, pada Hotel & Restaurant Business CourseYogyakarta Tourist Promotion Board (YTPB)– Yogyakarta

Pengalaman Organisasi:

  • 1966–1969: Sekretaris, Asosiasi Institut Latihan Swasta (ASILKA) DKI Jakarta, Jakarta.
  • 1973–1975: Sekretaris PHRI/IHRA Komda DIY & Jawa Tengah, Yogyakarta
  • 1976–1977: Sekretaris Pelaksana PHRI/IHRA Komda DIY, Yogyakarta
  • 1974–1976: Staf Pelaksana IHRA-ASITA Joint Promotion on Tourism – Yogyakarta Special Territory , Yogyakarta
  • 1974–1976: Anggota Pengurus Art Gallery Seni Sono, Yogyakarta

KEINGINAN WAKTU ITU: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT MELALUI INDUSTRI PARIWISATA

BAGIAN KETIGA

tries PROFIL

Pemerintah dengan berbagai kelompok usaha dan konglomerasi berusaha membangunkan citra kewirausahaan, dimana generasi penerus ini diharapkan tidak lagi berbaris mengantri lowongan kerja, tapi bisa menepuk dada dengan bangga bahwa dirinya mampu menciptakan kerja dan memberi kemakmuran pada bangsa.Semakin hari kehidupan semakin berat, kadang kadang sudah ditata sedemikian rupa pun masih ada saja kebutuhan hidup normal yang tak mudah dijangkau. Pertambahan jumlah penduduk yang otomatis berkait dengan penambahan angkatan kerja menjadi sesuatu yang merisaukan bagi rakyat kebanyakan.

Saat ini dimana pemberlakuan perdagangan bebas (Free Trade Area), banyak kalangan meragukan kemampuan industri bangsa kita. Mungkinkah bertahan dengan kelemahan-kelemahan yang ada saat ini. Kebersamaan menghadapi masalah ini betul-betul diperlukan bahkan dituntut untuk dilaksanakan.

Ketika industri kita bertekuk lutut karena tidak mampu bersaing, maka industri tersebut terpaksa mem-PHK karyawannya, berarti jumlah penganggur bertambah. Dan pengusaha industri tersebut akan memilih berubah menjadi pedagang yang menjadi distributor hasil produksi negara luar, yang akan berakibat menguras devisa kita.   Dan sepenuhnya kita akan menjadi konsumen tanpa tahu dari mana penghasilan bisa mereka peroleh untuk mengkonsumsi produk luar tersebut.

SOLUSI YANG DITAWARKAN :

Sebagaimana pengalamannya di bidang industri pariwisata dan dunia pendidikan, maka langkah yang perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah:

  • Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam industri pariwisata untuk meningkatkan penghasilan baik rupiah maupun devisa. Industri pariwisata mampu meningkatkan ekonomi nasional dan menjadi sumber penghasil devisa yang potensial.
  • Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam industri kreatif, baik sebagai souvenir bagi wisatawan maupun komoditi ekspor penghasil devisa.
  • Mengembangkan berbagai komoditi sebagai pendukung industri pariwisata maupun peningkatan jaringan pemasaran, dengan memanfaatkan jaringan waralaba.
  • Memanfaatkan teknologi komputer dan internet untuk belajar, berkarya dan berbisnis. Setiap orang dengan modal murah (sebuah komputer dengan akses internet), dan yang bisa dibeli pula secara angsuran dapat dijadikan penopang pemberdayaan masyarakat yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga

Ke empat kegiatan industri ini akan mampu bersaing, selama kita memang mau belajar terus dan meningkatkan kebersamaan sesama warga Negara. Sebagai Negara yang mempunyai kebudayaan tinggi dan keorisinilan, kita tidak perlu takut adanya patung bali made in Japan, batik made in Malaysia dan sekarang ini produk-produk kreatif made in China.

Dengan pengalaman, berbagai tekanan kerja keras dan cerdas, jadwal mencapai target dan berbagai petualangan yang positif dan kreatif yang dijalani dan dialami sejak muda, ia terobsesi membuat dan menciptakan gagasan-gagasan positif serta mandiri untuk kepentingan negara dan bangsa.

Sekarang, mengemban misi meningkatkan kebersamaan masyarakat untuk upaya menciptakan lapangan kerja dan usaha melalui motivasi, informasi & edukasi. Mengajak warga masyarakat menghindarkan diri dari kebiasaan kridha ing lumahing asta, jangan jadi manusia penuntut tanpa mau berpikir & bekerja positif. Mau bekerja keras dan cerdas. Dunia sudah berubah, kita harus mau berubah menjadi lebih baik untuk sejahtera.

Ia berusaha menciptakan kegiatan yang mampu memotivasi dan mengajak masyarakat untuk terus belajar, berdisiplin dan tertib kerja keras dan kerja cerdas dalam segala hal yang bisa bermuara pada kehidupan, kesehatan jasmani dan rohani serta kesejahteraan.

Kita harus menjadi diri kita sendiri, pejuang yang tak kenal lelah demi masa depan generasi penerus. Jangan biarkan mereka dilecehkan dunia. Kita tidak bisa dan tidak boleh berpangku tangan. Melalui badan usaha dan lembaga pendidikan yang dibentuknya dengan biaya yang ringan dan terjangkau masyarakat di segala strata serta mengadopsi teknologi modern, canggih yang mudah diaplikasikan pada beberapa bentuk pekerjaan akan membantu siapa saja untuk sejahtera.

TUGAS UTAMA DAN URGENSI SA’AT INI

Dalam waktu relative singkat sesuai kemampuan penanganan program harus menyebar luaskan program Belajar dan Bisnis Online melalui berbagai media ke seluruh Indonesia yang berisi ajakan kepada masyarakat untuk bekerja dan memanfaatkan INTERNET supaya bisa memperoleh penghasilan yang diharapkan, mampu mensejahterakan diri pribadi dan keluarga, perorangan dan kelompok. Mengingat sumber penghasilan tersebut datangnya dari luar negeri diperhitungkan tidak akan mempengaruhi keuangan domestik bahkan bisa menjadi sumber devisa bagi negara. Dengan pola kebersamaan program ini diharapkan bisa berkembang dengan cepat.

Semoga tidak ada hambatan yang berarti karena semua pihak bila menginginkan Indonesia mandiri dan rakyatnya hidup sejahtera akan mendukung program yang saling menguntungkan ini.

Dengan cara ini setiap orang yang berminat bisa memperoleh penghasilan dengan pembayaran mata uang dolar tanpa yang bersangkutan bersusah payah bekerja di luar negeri dan berpisah sementara dengan keluarga.

KEINGINAN SAAT INI: MENCERDASKAN DAN MENSEJAHTERAKAN BANGSA DENGAN CARA YANG MUDAH, TEPAT, CEPAT DAN MURAH SERTA MERAIH MANFAAT DARI PELUANG INI

 PROFIL PENGELOLA

 ISNARIANI BUDIWATI

tries PROFIL

Saya dilahirkan, dibesarkan dan menyelesaikan SMA di kota Blitar (Jatim), kota dimana Bung Karno, Presiden RI Pertama dilahirkan. Selain sekolah juga aktif di organisasi politik, saat itu.

Setelah lulus saya melanjutkan kuliah di Akademi Bahasa Asing di Yogyakarta. Di Yogyakarta saya bekerja di sebuah lembaga pendidikan D3 Pariwisata dan Perhotelan. Dalam tugas sehari-hari saya selalu berkomunikasi dengan para mahasiswa, menghadiri pertemuan-pertemuan antar pengurus perguruan tinggi dan organisasi serta institusi pemerintahan yang berkait dengan pariwisata dan perhotelan. Dari aktivitas tugas itulah saya merasa menyatu dan jatuh hati pada dunia pendidikan yang banyak memberi motivasi dan inovasi seiring pengembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setelah saya pindah ke Jakarta pada 1981 saya bergabung pada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan dan asuransi, diantaranya di Sewu Grup dan AIA.

Dalam kegiatan di lingkungan tempat tinggal, saya aktif pada pembinaan kesehatan masyarakat hingga kini, meski dalam skala kecil.

Dalam kegiatan bisnis saya pun bergabung pada beberapa perusahaan direct selling yang mengasah diri saya dibidang marketing dan meningkatkan pergaulan  antara lain pada perusahaan  yang mengembangkan produk kesehatan berupa kalung dan gelang magnet serta produk makanan dan minuman suplemen kesehatan. Yang menarik  pada perusahaan ini adalah adanya peluang menciptakan kesejahteraan dengan berbagai tantangan.

Untuk menangani beberapa kegiatan bisnis yang saya lakukan sekarang ini, setelah mengantarkan  anak-anak menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dan telah bekerja, saya bergabung pada M/C/A-WORLDWIDE ENTERPRISE yang memungkinkan pengembangan aktivitas yang berhubungan dengan minat saya dibidang pendidikan dan social  masyarakat yang sebelumnya pernah dijalani.

Dunia pendidikan telah menarik kembali minat saya dikarenakan tuntutan kreativitas yang memberdayakan sumber daya manusia Indonesia dengan pola yang saya yakini akan mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, teknologi tepat guna, kepribadian dan budi pekerti serta kedisiplinan dan tata tertib bagi masyarakat Indonesia dengan waktu yang relative singkat.

Dalam kaitan inilah, saya meyakini pendidikan merupakan sebuah upaya sadar untuk membangun kapasitas kreatif bangsa ini. Kreativitas sebuah bangsa barangkali merupakan satu-satunya aspek yang terpenting dari bangsa tersebut karena :

Pertama, bangsa adalah sebuah komunitas yang diimajinasikan (an imagined society). Perlu segera dikatakan, bahwa jati diri bangsa hanyalah atribut (sifatan) yang dilekatkan secara konsensual oleh bangsa tersebut. Kedua, pendidikan adalah upaya mengantar peserta didik ke masa depan yang penuh gejolak, ketidakpastian, dan ketidakjelasan. Hanya bangsa kreatif yang akan mampu bertahan, dalam arti menemukan jati dirinya, dalam lingkungan tidak pasti, dan tidak jelas tersebut.

KREATIVITAS SEBAGAI TANGGUNG JAWAB SEJARAH

Peran kreatif manusia harus dipandang dalam peran utamanya sebagai makhluk sejarah. Sejarah (his-story) adalah kisah upaya kreatif manusia dalam menjawab tantangan hidup. Pertanggungjawaban yang kita tagih pada setiap manusia mensyaratkan bahwa manusia kita beri kewenangan kreatif. Menjadi kreatif berarti mengambil keputusan untuk ber-tanggung jawab. Kewenangan kreatif ini dipijakkan pada kapasitas kreatifnya, yaitu :

  • Kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk “pasar” yang dilayaninya,
  • Kesanggupan untuk melayani orang lain secara tidak diskriminatif,
  • Kejujuran untuk melakukan evaluasi diri secara terus menerus,
  • Kekayaan imajinasi untuk menyediakan alternatif pemecahan masalah,
  • Kecerdasan untuk menilai kelayakan rumusan pemecahan masalah tersebut,
  • Keberanian untuk memilih pemecahan masalah dengan penuh tanggungjawab,
  • Keterampilan untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara etis, terutama dalam sebuah lingkungan yang majemuk.

Ciri terpenting masa depan adalah ketidakpastian dan ketidakjelasannya. Jika pendidikan adalah pengantar ke masa depan, maka sekolah seharusnya merupakan sebuah training ground penyikapan secara sehat ketidakpastian dan ketidakjelasan tersebut. Pembelajaran kontekstual, memberi tantangan intelektual, emosional, moral cukup, merupakan lingkungan kondusif bagi penumbuhan kapasitas kreatif (dan dengan demikian juga kepemimpinan) siswa. Ketidaktuntasan penyelesaian bertumpuk masalah kita dalam periode reformasi (demokratisasi dan desentralisasi) saat ini sebagian besar disebabkan sikap tidak kreatif para pemimpin formal birokrasi yang lamban dan indecisive.

Oleh karena itu, guru sebagai pemandu siswa ke masa depan, perlu memiliki kompetensi in-promptu untuk mengembangkan pengalaman  belajar bermakna secara inovatif dan luwes. Guru yang menggantungkan diri pada “juklak dan juknis rinci” dari “atas” sehingga tidak perlu melakukan interpretasi – dan oleh karenanya tidak bertanggungjawab- (apalagi kelulusan siswanya ditentukan oleh Ujian Nasional) bukanlah guru kompeten untuk mengembangkan kapasitas kreatif anak didik.

Kapasitas kreatif juga ditunjukkan oleh kemampuan berpikir secara sintetik, lateral-paralel, dan fuzzy. Kapasitas kreatif yang rendah bangsa Indonesia sebagian ditunjukkan oleh statusnya sebagai konsumen sains dan teknologi. Perlu dicermati juga, bahwa kapasitas kreatif ini merupakan penyusun modal buatan bangsa ini.

Inilah secuil gambaran yang bisa saya sajikan sebagai pengenalan diri dan alasan keberadaan kami.